Rabu, 01 Juni 2016

Proses morfologi

Morfem,Morf, Alomorf, dan Kata
Morfem adalah satuan gramatik yang paling kecil dan tidak mempunyai satuan lain sebagai unsurnya. Morfem dibagi 2 (dua) : 1. Morfem yang hanya mempunyai satu struktur fonologik. Seperti : morfem / baca / 2. Morfem yang mempunyai beberapa struktur fonologik
Seperti : morfem meN mempunyai struktur fonologik mem-,men- ,meny-,meng-, menge-dan,me-. Bentuk-bentuk seperti mem-,men-,meny-, meng- , menge-, dan me- adalah morf dan semuanya itu adalah alomorf morfem meN
Contoh lain : morfem ber- terdiri dari
morf ber-, pada berjalan morf be-, pada bekerja dan morf bel- pada belajar. Ketiganya, yakni be- ber-, -,dan bel- adalah alomorf morfem ber-
Disamping istilah morfem, morf, dan alomorf terdapat istilah kata. Kata merupakan dua macam satuan, ialah satuan fonologik dan satuan gramatik. Pengertian kata sendiri menurut Ramlan (1983) adalah satuan bebas yang paling kecil atau setiap satuan bebas merupakan kata.
Kata sebagai satuan fonologik,
Terdiri dari satu atau beberapa suku. Suku itu terdiri dari satu atau beberapa fonem. Misal kata /belajar/ terdiri dari tiga suku kata ialah bel, la, dan jar. Suku be terdiri dari dua fonem. Suku la terdiri dari dua fonem dan jar terdiri dari tiga fonem. Jadi kata belajar terdiri dari tujuh fonem. /b/,/e/,/l/,/a/,/j/,/a/,dan /r/.
Kata sebagai satuan gramatik ,
Terdiri dari satu atau beberapa morfem. Kata belajar terdiri dari dua morfem, ialah morfem ber- dan morfem ajar.
Deretan Morfologik, Hirarki Bahasa, Bentuk Dasar, dan Bentuk Asal
Deretan morfologik adalah suatu deretan atau daftar yang memuat kata-kata yang berhubungan dalam bentuk dan artinya. Deretan morfologik berguna dalam penentuan morfem-morfem dari kata yang ada.
Misal : kata kejauhan harus dibandingkan dengan kata-kata lain dalam deretan morfologik.
Kejauhan, menjauhkan, dijauhkan. Dari hal tersebut dapat disimpulkan morfem jauh dapat dipastikan kata terjauh kejauhan terdiri dari dua morfem yakni jauh dan morfem ke-an.
Berjauhan, menjauhi, dijauhi
Hirarki Bahasa
adalah urutan-urutan satuan-satuan gramatik dari bentuk kompleks ke unsur pembentuknya.
Contoh kata : berpakaian kalau diurutkan menjadi Berpakaian jadi unsur yang membentuk kata berpakaian bukan ber-, pakai, dan –an, melainkan ber- dan pakaian. Selanjutnya pakaian pakaian terdiri dari unsur pakai dan -an ber pakai an. Jadi kata berpakaian terbentuk dari bentuk dasar pakaian dengan afiks ber-, selanjutnya pakaian dari bentuk dasar pakai dengan afiks –an. Sedangkan bentuk asal dari kata berpakaian adalah pakai.
-Bentuk asal adalah satuan yang paling kecil yang menjadi asal sesuatu kata kompleks
-Bentuk dasar ialah satuan baik tunggal maupun kompleks yang menjadi dasar bentukan bagi satuan yang lebih besar.
Coba hirarkikan kata berperikemanusiaan dan tentukan pula bentukan dasar dan asalnya!
Proses Morfologis
Ialah proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya. Dalam bahasa Indonesia terdapat tiga proses morfologik, yakni proses pembubuhan afiks, proses pengulangan, dan proses pemajemukan.
Kalau dikaji sebenarnya ada satu proses yang disebut proses perubahan zero. Proses ini hanya meliputi jumlah kata tertentu, ialah kata-kata makan, minum, minta, dan mohon yang semuanya termasuk kata verbal transitif.
Proses Pembubuhan Afiks/Afiksasi
Pembubuhan imbuhan (afiks) pada suatu satuan baik satuan itu berupa bentuk tunggal maupun bentuk kompleks. Afiks adalah suatu satuan gramatik terikat yang di dalam suatu kata merupakan unsur yang bukan kata yang memiliki kesanggupan melekat pada satuan-satuan lain yang membentuk kata atau pokok kata baru. Jadi yang dipandang sebagai afiks adalah unsur kemungkinan melekatnya pada satuan-satuan lain lebih banyak.
Penelitian yang dilakukan terhadap bentuk-bentuk kata dalam bahasa Indonesia terdapat afiks secara umum di bawah ini:
prefiks infiks sufiks
meN-
ber-
di-
ter-
peN-
pe-
se-
per-
pra-
ke-
maha-
para-
-el-
-em-
-er-
-kan
-an
-i
-nya
-wan
-wati
-is
-man
-da
-wi
Selain itu ada istilah konfiks dan simulfiks dalam morfologi bahasa Indonesia.
Bahkan kridalaksana (1985) menyebutkan enam afiks,yaitu : prefiks,infiks,sufiks, simulfiks, konfiks, dan superfiks.
Konfiks berasal dari kata confero yang berarti bersamaan. Menurut Alwi (1998:32) konfiks adalah gabungan prefiks dan sufiks yang membentuk suatu kesatuan dan secara serentak diimbuhkan. Contohnya : ke-an pada kelaparan yang diimbuhkan secara serentak. Tidak ada kelapar dan laparan. Disebutkan ada empat konfiks, yaitu : ke-an, peN-an,per-an, dan ber-an. Sedangkan simulfiks adalah kebalikannya,yakni dimbuhkan secara tidak bersamaan. Contohnya: meN-i pada memukuli, yang pertama kali dilekatkan adalah meN+pukul menjadi memukul lalu +- i menjadi memukuli.
Sementara Ramlan (1983:52) menyebut simulfiks adalah afiks yang mempunyai kemampuan melekat bersama-sama pada satu bentuk dasar, diantaranya : peN-an, pe-an,per-an,ber-an,ke-an, dan se-nya. Ramlan tidak menyebut adanya konfiks.
Sedangkan kridalaksana (1985:20) simulfiks adalah afiks yang dimanifestasikan dengan ciri-ciri segmental yang dileburkan pada bentuk dasar. Dalam bahasa Indonesia diterapkan dengan nasalisasi. Simulfiks masih dianggap oleh Kridalaksana terdapat dalam bahasa tidak baku. Contoh : kopi menjadi ngopi.
Afiks Asli dan Asing, Produktif dan Improduktif
Bentuk afiks pra-, a-, -wan, -is, -man, dan –wi adalah berasal dari bahasa asing. Afiks asing dapat digolongkan dalam afiks bahasa Indonesia jika afiks-afiks tersebut keluar dari lingkungannya atau mampu melekat pada satuan lain yang tidak berasal dari bahasa aslinya. Contoh : satuan –in pada muslimin, dan –at pada muslimat, -if pada sportif, im- pada improduktif belum dapat dimasukkan ke dalam afiks bahasa Indonesia.
Afiks produktif ialah afiks yang memiliki kesanggupan yang besar untuk melekat pada-pada kata-kata atau morfem-morfem dan bahkan mampu membentuk kata-kata baru. Contoh : afiks –wan meskipun dari bahasa asing, mampu membentuk kata-kata baru, seperti : hartawan, jutawan, sukarelawan, usahawan, karyawan, sastrawan, wartawan dan lain-lain.
Afiks improduktif merupakan kebalikan dari afiks produktif. Contoh : -man yang hanya terdapat pada seniman dan budiman. Afiks –el-, -em-,dan -er- yang hanya terdapat pada gelegar, gemetar, gemuruh, gerigi, seruling. Afiks –da yang hanya pada hubungan keluarga : adinda, kakanda, pamanda, ibunda.
Dapat ditelaah afiks produktif meliputi : meN-, ber-, di-, ter-, peN-, pe-, se-,per-, ke-, maha-, para-, -kan, -an, -I, -wan, ke-an, peN-an, per-an, ber-an, dan se-nya. Sedangkan afiks improduktif : pra-, a-, -el-, -em-,-er-, -wati, -is, -man, -da, dan –wi.
Proses Pengulangan/Reduplikasi
Pengulangan satuan gramatik, baik seluruhnya maupun sebagiannya, baik dengan variasi fonem maupun tidak.
Bagaimana menentukan bentuk dasar kata ulang?
1. Pengulangan pada umumnya tidak mengubah golongan kata. Kalau kata ulang kata kerja, maka bentuk dasarnya pasti kata kerja. Contoh : berkata-kata(kata kerja) berkata(kata kerja) Nyanyi-nyanyian (kata nominal) nyanyian (nominal). Ada pula pengulangan yang mengubah golongan kata dengan pengulangan se-nya. Contoh : setinggi-tingginya(kt.keterangan) tinggi(sifat)
2. Bentuk dasar selalu berupa satuan yang terdapat dalam penggunaan bahasa.
Contoh : mempertahan-tahankan mempertahankan, bukan mempertahan atau tahankan
Kemerah-merahan terdapat dua kemungkinan, bisa bentuk dasarnya merah atau kemerahan. Hal ini berefek pada penggolongan kata ulang. Kalau bentuk dasarnya merah termasuk kata ulang kombinasi dengan afiksasi, kalau kemerahan termasuk kata ulang sebagian.
Macam-Macam Reduplikasi
Berdasarkan cara mengulang bentuk dasarnya, reduplikasi dibagi menjadi :
1. Pengulangan seluruh. Bentuk dasarnya diulang seluruhnya. Contoh : pengertian pengertian-pengertian.sekali sekali-sekali
2. Pengulangan sebagian. Bentuk dasar tidak diulang seluruhnya dan biasanya bentuk dasarnya berupa kata kompleks. Contoh : mengambil mengambil-ambil ketiga ketiga-tiga, pertama pertama-tama berapa beberapa
3. Pengulangan yang berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks. Bentuk dasarnya diulang seluruhnya dan berkombinasi dengan afiks.
Contoh : rumah rumah-rumahan hitam kehitam-hitaman dalam sedalam-dalamnya
4. pengulangan dengan perubahan fonem. Yang diulang bentuk dasarnya dengan ada perubahan fonem. Contoh : bolak-balik dari bentuk dasar balik, karena selain balik terdapat kebalikan, membalikkan, dibalik, sebaliknya. Ramah-tamah ramah sayur-mayur sayur
Proses Pemajemukan
Kata yang terdiri dari dua ka sebagai unsurnya. Satuan yang merupakan cirri-ciri kata majemuk:
1. Salah satu atau semua unsurnya berupa pokok kata
Pokok kata adalah satuan gramatik yang tidak dapat berdiri sendiri dalam tuturan biasa dan secara gramatikal tidak memiliki sifat bebas, yang dapat dijadikan bentuk dasar bagi sesuatu kata. Misal : juang, temu, alir, l,omba, tempur, jual, beli dan lainnya. Jadi setiap gabungan dengan pokok kata merupakan kata majemuk. Misal gabungan kata dengan pokok kata: kolam renang, pasukan tempur, medan tempur, lomba lari, jam kerja, tenaga kerja dan lain-lain. Kata majemuk yang terdiri dari pokok kata semua, misal : terima kasih, lomba lawak, tanya jawab, jual beli, simpan pinjam dan lain-lain
2. Unsur-unsurnya tidak mungkin dipisahkan atau tidak mungkin diubah strukturnya.
Satuan kamar mandi merupakan kata majemuk karena tidak dapat dipisahkan dengan satuan lain atau diubah strukturnya. Beda dengan orang mandi, dapat dipisah dengan orang itu mandi, orang itu akan mandi dan lain-lain.Begitu pula dengan anak buah dan anak orang. Anak orang dapat diubah strukturnya menjadi anak kedua orang itu pandai-pandai. Begitu pula dengan meja kursi dan kaki tangan. Meja kursi merupakan klausa bukan kata majemuk, karena dapat dipisah dengan dan. Kaki tangan kalau sudah dipisah dalam kalimat bermakna lain, kaki dan tangan. Contoh lain : orang tua, rakyat kecil, kamar gelap dan lain-lain. Ada beberapa kata majemuk yang salah satu unsurnya merupakan morfem unik (tidak dapat melekat dengan satuan lain. Contoh : simpang siur. Siur hanya melekat pada simpang. Begitu pula sunyi senyap, gelap gulita, terang benderang,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar